FAKTALINTASNUSA, JAKARTA, 24/08/2021Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengintruksikan kepada gubernur untuk segera melakukan distribusi vaksin ke kabupaten/kota setelah mendapatkan suplai dari Kementerian Kesehatan. Tito meminta suplai vaksin tidak boleh ditahan sebagai cadangan di kekurangan vaksin daerah provinsi.

“Gubernur setelah mendapatkan suplai vaksin dari Kementerian Kesehatan, segera mendistribusikan ke Kabupaten/Kota dan tidak ditahan sebagai cadangan (stok) di Provinsi,” ujar Tito dalam Instruksi Mendagri (Inmendagri) Nomor 37 Tahun 2021 tentang PPKM Level 3, Level 2, dan Level 1 Serta Mengoptimalkan Poski Penanganan Covid-19 di Tingkat Desa dan Kelurahan untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19.

Instruksi mendagri tersebut dikeluarkan pada Senin (23/8) sebagai kompas payung hukum perpanjangan PPKM yang berlaku mulai 24-30 Agustus 2021.

Instruksi mendagri ini, ditujukan kepada daerah yang menerapkan Level 3, Level 2, dan Level 1 yang tidak disebutkan dalam Inmendagri Nomor 35 Tahun 202 dan 1 tentang PPKM Level 4, Level 3, dan Level 2 Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali serta Inmendagri Nomor 36 Tahun 2021 tentang PPKM Level 4 Covid-19 di Wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua.

Sebelumnya, kekurangan cedangan vaksin terdengar dari berbagai daerah di Tanah Air. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, sejumlah daerah sebenarnya belum kekurangan vaksin Covid-19.

Budi mengakui, pemerintah daerah tidak perlu memegang cadangan vaksin Covid-19. Sebab ketentuan penyuntikan dosis pertama dan kedua diatur oleh pemerintah pusat.

“Atas arahan Bapak Presiden, kita ingin menegaskan sekali lagi. Daerah tidak perlu memegang stok vaksin karena nanti akan diatur suntik keduanya dari pusat,” kata Budi Gunadi Sadikin saat menyampaikan keterangan pers secara virtual, Selasa (24/8).

Budi mengatakan ada laporan terkait kekurangan vaksin di kabupaten/kota. “Jadi, ada yang benar-benar kekurangan dan ada yang merasa kekurangan,” katanya.

Kekurangan vaksin, kata Budi, umumnya dikarenakan sebagian vaksin dialokasikan sebagai stok. “Begitu dia terima 1.000 dosis vaksin, dia suntik hanya 500 dosis, sisanya ditahan sebagai stok untuk suntik dosis kedua,” katanya. (FLN002)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

putih

Baca Juga